Soe Hok Gie: Menyatu Dengan Alam

Ini adalah artikel yang ketiga yang membahas tentang Soe hok gie, yah bisa dibilang penulis membuat tulisan ini menjadi tulisan Trilogi. Pada tulisan sebelumnya penulis menggambarkan tentang kehidupan Gie sebagai seorang demonstran yang gigih dan berjiwa pemberontak, berpandang lurus dan idealis. Di artikel yang kedua penulis menggambarkan kisah cinta Gie yang penuh dengan pertentangan dari lingkungan kehidupan gadis yang dicintainya.

Pada artikel yang ketiga ini penulis akan menulis tentang kehidupan Gie yang suka menyatu dengan alam, menyukai tantangan dan kecintaannya pada rakyat dan tanah airnya. Dia tuangkan dalam kegiatan mendaki gunung, "Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung".

Soe hok gie adalah salah satu pendiri organisasi Mahasiswa pecinta Alam (Mapala) UI Fakultas sastra, dan saat ini hampir setiap universitas ataupun perguruan tinggi mempunyai organisasi tersebut. Organisasi ini tumbuh dan menciptakan rasa persaudaraan antara personal mahasiswa ataupun antar kampus.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat tubuhnya. Pemuda-pemuda sakitan tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugas pembangunan. Dan untuk itulah saya selalu mau membawa rombongan mendaki gunung" (Soe Hok Gie dalam Artikel 'Menaklukan Gunung Slamet').

Kalau boleh jujur, Gie lah yang menginspirasi penulis untuk melakukan kegiatan naik gunung, penulis mengenal Gie saat penulis kuliah, dari tulisan tentang alam terbuka, tentang mandalawangi, tentang semeru atau tentang mencari udara kebebasan di puncak gununglah yang membuat penulis termotivasi untuk memulai kegiatan mendaki.

Setelah penulis merasakan sendiri, ternyata apa yang dituliskan Gie itu benar, banyak hal yang penulis dapatkan dari kegiatan naik gunung itu sendiri, dari sikap toleransi, sikap saling memotivasi, sampai bagaimana mengalahkan egoisme yang tumbuh di dalam diri penulis, karena dengan naik gunung kita bisa mengetahui batasan-batasan diri kita, memaksa diri kita untuk selalu bisa meraih cita-cita dan tak mudah menyerah, belajar hidup tidak manja dengan segala keterbatasan, menjalin persahabatan yang erat. Selain pertumbuhan jiwa yang sehat, kita juga bisa lebih dekat dengan saudara-saudara kita yang hidup dipedalaman.

Penulis tidak mengenal siapa Soe hok gie secara personal, bagaimana wajahnya, bagaimana dia menghabiskan waktunya. Penulis hanya mengetahui lewat tulisan dan cerita orang-orang terdekatnya.
Soe terimakasih atas pelajaran hidup yang kau berikan, terutama tentang bagaimana cara menikmati, memaknai dan menyatu dengan udara kebebasan di alam terbuka, sungguh kau inspirasi dalam hidup ini, walau kini kau telah tiada tapi semangat geloramu ada di hati setiap manusia indonesia yang masih peduli akan lingkungan, masyarakat dan keindahan alam negeri ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © 2012 NgabluTemplate by : UrangkuraiPowered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.