"Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di pasifik". Inilah kalimat pertama yang ditulis oleh seorang anak yang masih berusia lima belas tahun pada saat itu. Tulisan yang menjadi awal dari manusia yang menjadi panutan dan sumber inspirasi sebagian pemuda dan manusia di negeri ini, termasuk penulis sendiri yang amat mengagumi catatan, kritikan dan juga kegiatan alam terbukanya.
Apa yang membuat Soe hok gie atau yang dikenal dengan nama pendeknya Gie amat dikenang dan menjadi cerminan mahasiswa yang merdeka dan membela rakyat di negerinya. Tentulah karena dia seorang yang idealis, lurus dan berani, didalam catatan hariannya sendiri dia menulis "Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan".
Ketidakadilan yang dia lihat dilingkungan sekitarnya menumbuhkan rasa kepedulian, rasa keberanian dan juga rasa pemberontakan kepada negeri ini. Apapun yang bisa dia lakukan untuk rakyat di negeri ini akan dia lakukan dengan sepenuh hati, mulai dari menulis kritikan yang tajam kepada pemerintahan pada saat itu, ataupun harus turun ke jalan untuk memprotes kebijakan yang sangat menyengsarakan rakyat di negeri ini. Dia lah pelopor aksi yang bernama Long march yang saat ini sering di lakukan oleh para pendemo saat menyuarakan aspirasinya. Seorang yang bertubuh tidak besar dan kurus ini mempunyai nyali yang sangat besar, pernah pada suatu demonstrasi dia merebahkan tubuhnya di depan kendaraan Lapis baja (Panser). Dari sinilah peran mahasiswa yang dianggap sebagai kaum intelektual sangat berperan besar dalam meruntuhkan dinding ketikadilan di negeri ini dalam upaya membangun negeri ini kearah yang lebih baik.
"Generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia". Kutipan ini yang penulis ambil dalam Buku catatan Seorang Demonstran, bagaiman jiwa pemberontak yang kuat dan semangat keberanian yang dimiliki Shoe hok gie sangat membara untuk melawan ketikadilan dan kesewenang-wenangan di negeri ini.
Cara demonstrasi yang dilakukan Soe hok gie terbilang unik, bukanlah dengan cara yang anarkis dengan merusak fasilitas umum, tapi dalam diri dia sendiri menolak demonstrasi dengan cara yang merugikan tersebut, walaupun hal itu sering kali tidak bisa dihindari dalam sebuah demonstrasi. Soe sendiri menggunakan cara-cara yang elegan dan menggelitik, dengan cara menulis kritikan dalam media cetak, ataupun dengan cara yang kreatif seperti menciptakan yel-yel bersama temannya dan menyanyikannya di depan seorang menteri yang dipaksa menghadapi mahasiswa, Yel-yel nya seperti ini: "Tek..kotek..kotek...kotek.. Ada menteri Tukang objek" dan banyak lagi yel-yel yang diciptakan atau dengan memberikan alat make up berupa lipstik dan bedak kepada anggota dewan agar mereka dapat bersolek dihadapan penguasa. Cara seperti ini yang menurut penulis memberikan efek psikologis yang sangat besar bagi masyarakat, dan cara yang sangat cerdas tanpa harus membenturkan fisik antara tentara dan mahasiswa serta masyarakat pada saat itu.
Apa yang diperjuangkan Shoe hok gie pada saat itu boleh dikatakan berhasil, Indonesiapun punya pemerintahan baru, akan tetapi pemerintahan yang barupun tak dapat merealisasikan isi perjuangan yang di suarakan oleh Soe hok gie dan rekan mahasiswa.
Disaat banyak mahasiswa yang masuk dalam lingkup penguasa, anggota dewan ataupun yang berada dilingkup pemerintahan. Gie tetap teguh pada pendiriannya, tidak tergoda dengan kilauan dunia, walaupun semua tahu dialah yang menjadi lokomotif perubahan dan runtuhnya pemerintahan orde lama. Sikap inilah yang membuat dia dimusuhi, tapi dia tetep lurus dan lebih mengambil sikap tidak populer.
Tidak hanya dipemerintahan dia pun banyak mengkritik kebijakan ditempat dia menuntut ilmu dan juga tempat dia mengajar sebagai dosen yaitu Universitas Indonesia yang menurutnya banyak sekali melakukan korupsi dan penyelewengan.
Gie, kau lahir dari kaum minoritas, banyak yang mengejekmu karena kecinaanmu...
Aku ingin mengatakan kepada mereka, apa yang telah kalian perbuat wahai kaum mayoritas untuk negeri ini
Hanya bisa berteriak lantang, dan bangga akan ke mayoritasanmu
Beranikah kau seperti dia atau hanya sekedar ikut-ikutan
Gie, hadirlah dalam jiwa setiap pemuda dinegeri ini
Sahabat marilah kita membangun negeri ini bersama
Tanpa ada mayoritas ataupun minoritas,
karena dalam setiap belahan dunia akan ada mayoritas dan minoritas
Bangunlah dengan rasa cinta dan kasih sayang serta kepedulian sesama...
"Generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia". Kutipan ini yang penulis ambil dalam Buku catatan Seorang Demonstran, bagaiman jiwa pemberontak yang kuat dan semangat keberanian yang dimiliki Shoe hok gie sangat membara untuk melawan ketikadilan dan kesewenang-wenangan di negeri ini.
Cara demonstrasi yang dilakukan Soe hok gie terbilang unik, bukanlah dengan cara yang anarkis dengan merusak fasilitas umum, tapi dalam diri dia sendiri menolak demonstrasi dengan cara yang merugikan tersebut, walaupun hal itu sering kali tidak bisa dihindari dalam sebuah demonstrasi. Soe sendiri menggunakan cara-cara yang elegan dan menggelitik, dengan cara menulis kritikan dalam media cetak, ataupun dengan cara yang kreatif seperti menciptakan yel-yel bersama temannya dan menyanyikannya di depan seorang menteri yang dipaksa menghadapi mahasiswa, Yel-yel nya seperti ini: "Tek..kotek..kotek...kotek.. Ada menteri Tukang objek" dan banyak lagi yel-yel yang diciptakan atau dengan memberikan alat make up berupa lipstik dan bedak kepada anggota dewan agar mereka dapat bersolek dihadapan penguasa. Cara seperti ini yang menurut penulis memberikan efek psikologis yang sangat besar bagi masyarakat, dan cara yang sangat cerdas tanpa harus membenturkan fisik antara tentara dan mahasiswa serta masyarakat pada saat itu.
Apa yang diperjuangkan Shoe hok gie pada saat itu boleh dikatakan berhasil, Indonesiapun punya pemerintahan baru, akan tetapi pemerintahan yang barupun tak dapat merealisasikan isi perjuangan yang di suarakan oleh Soe hok gie dan rekan mahasiswa.
Disaat banyak mahasiswa yang masuk dalam lingkup penguasa, anggota dewan ataupun yang berada dilingkup pemerintahan. Gie tetap teguh pada pendiriannya, tidak tergoda dengan kilauan dunia, walaupun semua tahu dialah yang menjadi lokomotif perubahan dan runtuhnya pemerintahan orde lama. Sikap inilah yang membuat dia dimusuhi, tapi dia tetep lurus dan lebih mengambil sikap tidak populer.
Tidak hanya dipemerintahan dia pun banyak mengkritik kebijakan ditempat dia menuntut ilmu dan juga tempat dia mengajar sebagai dosen yaitu Universitas Indonesia yang menurutnya banyak sekali melakukan korupsi dan penyelewengan.
Gie, kau lahir dari kaum minoritas, banyak yang mengejekmu karena kecinaanmu...
Aku ingin mengatakan kepada mereka, apa yang telah kalian perbuat wahai kaum mayoritas untuk negeri ini
Hanya bisa berteriak lantang, dan bangga akan ke mayoritasanmu
Beranikah kau seperti dia atau hanya sekedar ikut-ikutan
Gie, hadirlah dalam jiwa setiap pemuda dinegeri ini
Sahabat marilah kita membangun negeri ini bersama
Tanpa ada mayoritas ataupun minoritas,
karena dalam setiap belahan dunia akan ada mayoritas dan minoritas
Bangunlah dengan rasa cinta dan kasih sayang serta kepedulian sesama...

Perjuangan sia2. Mati krn gas beracun dr gunung. Konyol sekali. Berhasil dmnnya org ini? Maaf sy malah tertawa
BalasHapus