Soe Hok Gie: Yang Muda Yang Bercinta

Pada Tulisan tentang Shoe hok gie yang kedua ini, saya akan menulis tentang Shoe hok gie dari sisi yang lain. Shoe hok gie sendiri adalah manusia biasa, ditengah pertentangan politik dinegeri ini pada saat itu, Gie pun banyak bercerita tentang hubungan cinta dengan beberapa gadis dalam buku hariannya.

Ketika menginjak umur tujuh belas tahun, dia beranggapan bahwa cinta murni itu tidak ada, entah penalaran dari mana dan beranggapan bahwa cinta = nafsu. Namun setelah berumur dua puluh tahunan dia sendiri sangsi akan pendapatnya sendiri. "Bagiku cinta bukan perkawinan. Dulu kurang lebih 1-2 tahun yang lalu aku yakin bahwa cinta=nafsu. Tapi aku sangsi akan kebenaran itu. Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu akan cemar bila kawin. Akupun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu."

Dalam buku hariannya Gie menuliskan kegelisahan hatinya. Kisah cinta Soe hok gie sangatlah berliku,  banyak pertentangan dari keluarga gadis yang ia cintai dan menganalogikan dirinya sebagai seorang tentara pembebasan. "Mereka dipuja-puja, dianggap sebagai pahlawan sebagai tentara pembebas. Namun, jika ada anak perempuan ingin dinikahi, semuanya akan berkata, “nanti dulu”. 

Dia pun pernah berkata“Saya juga mulai menyadari reaksi ibu (dari) Maria. Orang-orang Tionghoa ini senang pada saya karena saya berani, jujur, dan berkepribadian. But no more than that. Pada saat mereka sadar bahwa saya ingin menjadi in-group mereka, mereka menolak; Soe baik tetapi tidak untuk keluarga kita.”

Shoe hok gie pun pernah mengutarakan isi hantinya kepada Arief Budiman kakaknya. Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si..., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.

Dan sebuah sajak berjudul "Sebuah Tanya" mungkin mencerminkan bagaimana kegelisahan hatinya :

Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah Mandalawangi

Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya

Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi suram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti

Seperti kabut pagi itu
Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru.

1 komentar:

  1. ketika seorang demonstran pongah soal kebebasan..ternyata soe mash belum bebas untuk memiliki (wanita/cinta)???

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © 2012 NgabluTemplate by : UrangkuraiPowered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.